Perburuan Yang Menyeramkan

Wiuww..wiuww..wiuww…” Horee.. bel sudah berbunyi,” teriak Fika kegirangan. Hari ini adalah hari Selasa. Hari yang selalu ditunggu-tunggu Fika, karena pada hari ini ada pelajaran paling favorit buat dia yaitu IPA. “ Fika, kenapa kamu senang sekali hari ini?” tanya Salma. “Aku sudah tidak sabar menunggu Pak Anto masuk kelas,” sahut Fika. Fika begitu bersemangat menunggu kedatangan Pak Anto masuk ke kelas. Bersemangat ingin mendengarkan Pak Anto menyampaikan pelajaran yang dijanjikan minggu yang lalu. “Aku berdoa semoga Pak Anto tidak masuk hari ini,” sahut Nada sambil menengadahkan kedua tangannya. Nada begitu berharap Pak Anto tidak berangkat, karena dia takut pada hari ini nanti anak-anak kelas empat akan diajak melakukan perburuan yang menyeramkan. “Aku setuju denganmu Da,“ sahut Salma. Begitu saja takut, lihat nih aku sudah mempersiapkan peralatan yang diminta Pak Anto minggu lalu,” ungkap Fika sambil memperlihatkan isi tasnya. “Sama, aku juga bawa Fik,” sahut Fara.

Tiba-tiba dari balik pintu terdengar, “Assalamu’alaikum, selamat pagi anak-anak,” kata Pak Anto. “Wa’alaikumussalam, selamat pagi pak guru,” jawab anak-anak. Setelah bernyanyi dan bermain tepuk, Pak Anto bertanya kepada anak-anak. “Anak-anak sudah siap berpetualang?” tanya Pak Anto. “Sudaaaaah,” sahut anak-anak. “Perlengkapan sudah bawa semua?” tanya Pak Anto. “Sudah Pak,” sahut anak-anak serempak. “Pak, aku bawa toples, kain kasa dan karet,” sahut Fika. “Aku juga,” sahut teman-temannya sambil mengangkat jari telunjuk ke atas. Anak-anak penasaran sebenarnya untuk apa peralatan yang dibawanya. Semua berbisik-bisik ingin tahu untuk apa peralatan ini semua. “Pak guru, untuk apa semua peralatan ini dibawa?” teriak Budi. “Baik anak-anak, kalau kalian ingin tahu, alat-alat ini nanti akan kita gunakan untuk menangkap ulat.” Aaaaaaaa.. hi..!” teriakan bersahutan dari anak putri. Tapi Fika tidak kaget mendengar keterangan dari Pak Anto. Pak Anto lantas menenangkan anak-anak dan kemudian menerangkan cara menggunakan peralatan tadi untuk menangkap dan menyimpan ulat.

“Baik anak-anak, kalian sudah siap untuk berburu ulat?” “Siap paaak!” sahut anak-anak. Anak-anak pun segera mempersiapkan bekal dan peralatannya. Setelah anak-anak kumpul di halaman, “Ayo anak-anak, kita akan berburu ulat di kebun sekitar sekolah. Tapi ingat, semua harus menjaga dan tidak ada yang boleh merusak tanaman yang ada di kebun!” “Baik Pak,” jawab anak-anak sambil menganggukkan kepala. Mereka pun segera bergegas masuk ke kebun mencari ulat.

Tiba-tiba terdengar teriakkan keras dari dalam kebun, “Aaaa…!” teriak Nada ketakutan. Semua berlarian menuju ke arah suara teriakkan. “Ada apa Nad?” tanya Fika. “Aku takut,” jawab Nada sambil memegang tangan Fika. “Takut apa kamu?” tanya Salma. “Itu, aku takut ulat,” jawab Nada. “Oo, ulat. Gitu saja takut,” timbal Fika sambil mengambil ulat dan memasukkan ke dalam toples Nada. “Ayo teman-teman, kita lanjutkan perburuan kita!” ajak Fara.

Mereka pun segera meneruskan mencari ulat di dalam kebun. Dua jam berlalu, kemudian terdengarlah suara peluit dari pinggir kebun, “ priit … priit … priit …!” suara peluit yang ditiup Pak Anto. “Anak-anak, semua kumpul kemari!” teriak Pak Anto. Semua anak kelas IV segera bergegas menuju suara Pak Anto. “Bagaimana semua sudah dapat ulat?” tanya Pak Anto. “Sudaaaah,” jawab anak-anak. “Baik anak-anak, kita istirahat sejenak di bawah pohon yang rimbun ini!” perintah Pak Anto. Mereka pun kemudian beristirahat sambil bercanda satu sama lainnya.

“Baik anak-anak istirahat cukup, kita segera berkemas dan kembali ke sekolah, oke..?”. “Oke Pak guru.” Sahut anak-anak serempak. Semua anak kelas IV kemudian berkemas dan segera menuju ke sekolah. Setelah tiba di sekolah, “ ya anak-anak, semua toples yang berisi ulat ditaruh di atas rak masing-masing!” himbauan dari Pak Anto. Anak-anak pun menaruh toples di atas rak masing-masing.

“Nah, anak-anak tugas kalian setelah ini adalah mengamati ulat ini, sanggup?” tanya Pak Anto. “Sanggup..!” jawab anak-anak kompak. “Beberapa hari ke depan, kalian catat dan kalian gambar setiap perubahan yang terjadi pada ulat pada lembar pengamatan yang sudah pak guru sediakan!” lanjut Pak Anto. Pak Anto kemudian membagikan lembar pengamatan ke semua murid-muridnya.

Hari demi hari, waktu pun berjalan. Setiap hari anak-anak selalu menyempatkan untuk melihat ulat, sudahkah ada perubahan yang terjadi. Ternyata perubahan demi perubahan terjadi pada ulat, dari ulat mulai menggelantung, ulat keluar benangnya, ulat terbungkus benang. Setiap terjadi perubahan, anak-anak senangnya bukan main, ada yang teriak hore, ada yang teriak asyik dan ada yang teriak kegirangan sambil loncat-loncat. Anak-anak sangat bersemangat sekali untuk mencatat dan menggambar setiap perubahan yang terjadi pada ulat. Bahkan mereka menggambar persis seperti perubahan yang ia lihat.

 Minggu ketiga mulai berjalan, ketika anak-anak sampai di sekolah, mereka pun terkejut. “Lihat, teman-teman lihat ulat kepunyaanku!” teriak Fika. “…indahnya, wow cantiknya…, aduh manisnya!” suara anak-anak bersahutan. “Lihat kepunyaanku juga!” sahut Salma. “Wow.., keeren,” sambung Budi. Pagi itu anak-anak begitu kegirangan. Ceria sekali wajah mereka, karena ulat yang berhar-hari mereka amati telah menjadi kupu-kupu yang sangat cantik. Ada yang berwarna kuning, biru, orange, hitam, coklat, putih, dan bahkan ada yang warna-warni.

Tiba-tiba dari balik pintu, “Assalamu’alaikum anak-anak!” sapaan dari Pak Anto. “Wa’alaikumussalam pak guru,” jawab anak-anak . “Selamat ya untuk kalian semua!” ucapan dari Pak Anto sambil melakukan tos sama anak-anak. Anak-anak senang sekali. “Pak guru, kapan kita lepas kupu-kupu ini?” tanya Fika dengan bersemangat. “Bagaimana kalau kita lepas kupu-kupu ini bersama-sama hari ini?” usul Pak Anto. “Ya horee.., ..asyik.., kita lepaskan bersama-sama!” sahut anak-anak.

Di halaman sekolah anak kelas IV sudah siap untuk melepas kupu-kupu mereka. Dengan menghitung bersama, “satu, dua, tiga …!” teriak kekompakkan anak-anak. Kupu-kupu pun dilepas dan disambut dengan  sorak-sorai dan tepuk tangan murid-murid kelas lain.

by Ust Imam Wijayanto, S.Pd.I

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.