Sejarah Pendirian SD IT NH

HISTORY of SDIT NIDAUL HIKMAH

gbr1

By : Ahmad Rokhim, S. Hut, S. Pd.SD

(Ketua Yayasan Wahana Bina Masyarakat-LPIT Nidaul Hikmah)

Lebaran 3 Syawal 1425 H, Nopember tahun 2004, saat ada pertemuan rutin keluarga Bani Abdul Fatah di rumah Almarhum Mbah Sugi  Abdul Ghoni (Ngaglik, Ledok). Dimunculkanlah ide  atau gagasan untuk mendirikan lembaga pendidikan sebagai bagian untuk meneruskan amal keluarga. Adalah Bapak H. Ahmad Nuh Muslim (alm) dan Bpak Muhroni (alm) yang begitu memberikan semangat untuk mendirikan sekolah. Saat itu pula disepakati akan didirikannya Sekolah Dasar Islam Terpadu (SD IT) di Salatiga.

Saat itulah ditunjuk saya (Ahmad Rokhim), almarhumah Istri (Fakhri Niswati), bp Syarifudin, Bu Muntafiatun, dan ibu Malikhah sebagai tim persiapan pendirian SDIT, yang saat itu belum diberi nama. Jujur ada perasaan bahagia, beban sekaligus tertantang terkait amanah ini. Apalagi saat itu saya dan almarhumah De’Nis sudah sangat merasa tidak nyaman bekerja di sekolah sebelumnya. Dalam sebuah obrolan saya dengan almarhumah, beliau pernah menyampaikan alangkah  bahagianya ketika kita bisa buat sekolah sendiri. Dalam perjalanannya saya mengajak temen-temen lain untuk persiapan ada pak agus Himawan (WABIM) dan Bu Titik Krisnawati.

Untuk lebih fokus melakukan persiapan pendirian, saya putuskan untuk berhenti bekerja sebagai guru di SDIT Nurul Islam Tengaran, yang sudah saya jalani sejak tahun 2002 pada bulan Desember 2004. Sehingga nyaris saat itu saya tidak punya penghasilan sama sekali sampai juli 2013, tetapi semua sudah saya niati, dan istri juga sangat senang. Saya hanya mengandalkan sisa tabungan yang masih saya miliki ketika saya masih bekerja di MHP untuk menghidupi istri dan kedua anak saya. Karena sekolah baru yang akan kita dirikan ini butuh tenaga yang menyiapkan secara focus dan serius dari awal, dan saya menyediakan diri untuk itu insyaallah.

Pada awalnya, SDIT direncanakan akan didirikan di komplek Pondok Pesantren An Nida. Dengan pertimbangan, sudah ada gedung tinggal memanfaatkan, selain potensi santri dari tahun ke tahun yang mulai semakin menurun. Meskipun dengan berbagai pertimbangan akhirnya tidak jadi.

 Diawali dari pembahasan nama sekolah di rumah alm Bp Ahmad Nuh Muslim,yang dihadiri oleh Bp Ahmad Nuh Muslim, bp Sukedi, bp Ahmad Abdul ghoni, bp  Syarifudin, bp  Maskuri, bp Asadullah, dan saya sendiri. Atas pertimbangan keamanan ke depan, dan tanpa meninggalkan histori, maka disepakati nama Nidaul Hikmah yang artinya “panggilan ilmu/hikmah” (atas usul almarhum Bp. Nuh Muslim) sehingga ada kaitan dengan rencana semula yaitu An Nida.

Alhamdulillah Ibu Hj. Sugiarti  akhirnya mewakafkan tanah 500 m2  yang ada di belakang rumahnya yang menjadi cikal bakal SDIT Nidaul Hikmah sekarang ini.  Ya Allah alirkanlah pahala terus kepada beliau, karena keihlasannya melepaskan sebagian tanahnya untuk mengawali dakwah pendidikan ini.

Alhamdulillah persolan pertama tanah sudah ada solusinya…tetapi kemudian muncul persoalan berikutnya karena kita juga tidak punya uang sama sekali untuk memulai membangun, karena sebelumnya direncanakan di An Nida yang sudah ada gedungnya sehingga kita tidak berfikir sama sekali untuk menyiapkan dana untuk pembangunan.

Alhamdulillah di saat kita kebingungan untuk memulai membangun karena tidak adanya dana, lewat referensi bp Heri Tristijanto saya bisa berkenalan dengan seorang Muhsinin, bernama H. Muhtarom dari Tembelangan, Pabelan. Saya sempatkan untuk silaturrahmi ke rumahnya. Dan saya sampaikan keinginan kita untuk membangun 2 ruang kelas baru. Alhamdulillah Beliau kemudian menyanggupi membangunkan 2 ruang kelas baru senilai 40 juta rupiah, dengan system pembayaran diangsur semampunya tanpa bunga. Yang kemudian kita bisa lunasi sekitar 2 tahun kemudian. Mudah-mudahan terus mengalir pahala untuk beliau bapak H. Muhtarom.

Pada tahun baru hijriyah 1428 H/ Maret 2005 dimulailah peletakkan batu pertama pembangunan gedung SDIT Nidaul Hikmah tahap pertama. Sebuah seremoni pun digelar menandai dimulainya pembangunan. Kalau boleh saya bilang seremoni itu sangat luar biasa, bagaimana tidak untuk memulai membangun sebuah sekolah yang sama sekali baru dan belum dikenal di Salatiga, hampir semua pejabat kota Salatiga hadir dalam acara itu, Mulai Walikota, Kepala Dinas Pendidikan, Kepala DPU, direktur Rumah sakit, Direktur PDAM, Bappeda, Calon Walikota (Sutopo), M. Haris (DPRD Propinsi), Pengurus DPD PKS, Ust. Sudirjo, Ketua JSIT Wilayah Jateng, Camat, lurah,UPTD, dll.

Ada sebuah desain gedung yang dibuatkan oleh teman saya, bapak Muhajir, S. Pd lulusan pendidikan Teknik Bangunan Unnes kita pampangkan di depan para undangan. Anggaran yang tertera 2,4 milyar. Yang saya sendiri saat itu ndak percaya apa mungkin..? kita mau membangun 2 kelas senilai 40 juta saja harus mengangsur. Apalagi site plan gedung yang kita pampangkan sudah menyertakan tanah yang bukan milik kita, tetapi milik mbah Suliyem yang tidak termasuk yang diwakafkan. Tetapi terkadang sebuah seremoni itu butuh suatu yang wah…, yang membuat orang terdecak kagum. Mungkin sebagian hadirin bertanya-tanya, yayasan ini pasti kaya. Uang 2,4 Milyar di tahun 2005 tentu uang yang sangat besar. Padahal yang akan kita bangun hanya senilai 40 juta rupiah itupun kita mengangsur (alias nyicil), sedangkan yang lain akan kita kerjakan secara bertahap. Bahkan sampai tahun ke Sepuluh (tahun 2014) ini, pembangunan itu belum juga selesai.

Satu doa yang senantiasa saya ingat dilantunkan Almarhum Bapak Ahmad Nuh Muslim saat itu “ Allahumma la mani’a lima a’thoita wa la mu’thia lima mana’ta”..doa yang memberikan spirit kepada saya bahwa tidak ada yang bisa mencegah kalau Allah sudah menghendaki. Dan tugas kita berikhtiar semaksimal mungkin agar pendirian SDIT Nidaul Hikmah ini sesuai dengan kehendak-Nya.

gbr2

 Tokoh Masyarakat menghadiri peletakan batu pertama SDIT Nidaul Hikmah (Walikota Salatiga H. Totok Mintarto, baju safari)

gbr3

Almarhum Bapak Nuh Muslim, membacakan doa pada acara peletakan batu pertama SDIT Nidaul Hikmah

gbr4

Walikota Salatiga, Totok Mintarto  (Alm) meletakkan batu pertama pembangunan Gedung SDIT NIdaul Hikmah, Tahun 2005

gbr5

Panitia Peletakan Batu Pertama SDIT NIdaul Hikmah, Tahun 2005 ( Pak Subyanto, Pak Is Yudiswara, Pak Yulianto, Pak Kalimi, pak Asnawi, Pak Kirman, Pak Witono, Pak Darmanto, Pak Ridlo, Pak Asad, Lik Mat, Lik Kedi, Om Azam, Mas Umar, Pakde Giyarno, lik Kuri, Pak Syarif, Pak Topo, Pak Agus Himawan)

Yang jelas saat itu acara banyak dibantu oleh masyarakat sekitar (macanan), dan keluarga., Mudah-mudah sumbang sih mereka menjadi jariyah yang tidak akan terputus selamanya. Dan itulah yang membuat saya terus berfikir bagaimanapun sekolah ini sekarang sudah besar, jangan sampai lupa pada sejarah. Bahwa masyarakat punya andil besar. Untuk itu kemanfaatan juga harus terus dihadirkan untuk masyarakat sekitar, beasiswa, bakti social, dan lainnya yang bisa kita berikan kepada mereka.

gbr6

Gedung Pertama SDIT Nidaul Hikmah, sederhana di ujung kebun

 Alhamdulillah dengan penuh keterbatasan, tahun 2005 kita memulai kegiatan belajar mengajar pertama, ada 28 anak yang dititipkan dari sekitar 46 pendaftar..  Memulai dengan 2 ruang kelas yang sangat sederhana di ujung kebun. Alhamdulillah ini adalah awal yang baik. Ada satu optimisme yang begitu besar bahwa sekolah ini akan menjadi besar. Bulan April kita mulai cetak brosur tanpa gambar, saya presentasi dari TK ke TK di Salatiga, memasang sepanduk di beberapa sudut kota. Sepanduk kita pasang meskipun gedung sekolahnya belum ada. Makanya banyak yang kecewa, dan tidak jadi mendaftarkan diri.

Tahun pertama kita lalui dengan penuh nostalgia, saya sebagai Kepala sekolah, Guru, merangkap TU, plus penjaga dan tukang kebun sekolah karena saya tinggal di tempat yang paling dekat dengan sekolah, dengan gaji yang “sangat besar”  225 ribu rupiah, selisih 25 ribu dengan Almarhumah, Bu Yarti dan pak Imam. Tapi Alhamdulillah saya diberi kenikmatan dan keberkahan yang luar biasa dari uang yang hanya sebesar 225 ribu, untuk menghidupi istri dan kedua anakku saat itu.

 

gbr7

Gedung Kedua, senilai 295 juta,  Setelah Gedung Pertama dirombak, Tahun 2006

(Bantuan Pemkot salatiga 150 Juta)

Pada tahun 2007 alhamdulillah  kita bisa menyelesaikan pembebasan tanah yang tepat berada di gedung pertama SDIT Nidaul Hikmah seluas 792 m2 itu selama kurang lebih setengah tahun, secara bertahap. Dan pada tanggal 07 Mei 2007 Resmi tanah leter C atas nama Kasihan S bisa kita lunasi dengan bukti kuitansi No 03/SDIT/NH/V/07 sebesar Rp 118.800.000,- (seratus delapan belas juta delapan ratus ribu rupiah) yang diterima oleh bapak Syamsudin AF, BA. Subhanallah Allah maha pemberi dan maha Penolong. Untuk selanjutnya demi keamanan status tanah ke depan, akhirnya status tanah tersebut kita rubah menjadi wakaf berdasarkan ikrar wakaf  tanggal 30 Juli 2007 yang ditandatangani seluruh keluarga/wakil keluarga Bani Abdul Fatah. Meskipun sejatinya tanah tersebut murni sekolah beli, hanya untuk memudahkan proses administrasi.

Dari tahun ke tahun respon masyarakat  terhadap kehadiran SDIT Nidaul Hikmah          semakin besar, yang pada akhirnya menuntut Yayasan untuk bekerja keras menyiapkan segala sarana dan prasarana, termasuk gedung. Sempitnya lahan yang ada terpaksa yayasan membuat desain gedung tiga lantai pada tahun 2010, dengan terobosan pendanaan Gerakan BM2B (Beramal Menabung Membangun Bersama).

 

gbr9

Gedung C SDIT Nidaul Hikmah, Gedung senilai 1,3 M tampak megah dari halaman tengah sekolah, dibiayai sebagian dari Gerakan Beramal Menabung Membangun Bersama (BM2B)

Memasuki usianya yang ke 10 tahun ini, SDIT Nidaul Hikmah memiliki 23 kelas (579 siswa, dengan 56 tanaga pendidik dan kependidikan. Dengan tetap mengusung Al Qur’an sebagai muatan unggulan di sekolah ini, semoga sekolah ini semakin mendapatkan tempat di hati masyarakat salatiga dan sekitarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.